Kindle Fire Coupon Kindle Fire Coupon 2012 Kindle DX Coupon 2012 Kindle Fire 2 Coupon Amazon Coupon Codes 2012 Kindle DX Coupon PlayStation Vita Coupon kindle touch coupon amazon coupon code kindle touch discount coupon kindle touch coupon 2012 logitech g27 coupon 2012 amazon discount codes
Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Hadits » Penjelasan Hadits : اتق الله حيثما كنت “Bertaqwalah Engkau Dimanapun Engkau Berada”

masjidOleh : Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’dy Rahimahullah

 

عنأبيذرالغفاريرضياللهعنهقال: قالرسولاللهصلىاللهعليهوسلم: “اتقاللهحيثماكنت،وأتبعالسيئةالحسنةتمحها،وخالقالناسبخلقحسنرواهالإمامأحمدوالترمذي.

 

Dari Abu Dzar Al-Ghifary Radhiyallahu ‘anhu dia berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :

“Bertaqwalah engkau dimanapun engkau berada, dan ikutkanlah perbuatan jelek itu dengan perbuatan baik niscaya dia akan menutupinya, dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik”. [HR. Ahman dan Tirmidzi] ¹

 

Ini adalah hadits yang agung, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan di dalam hadits ini antara hak Allah dan hak-hak hamba (nya).

 Maka hak Allah atas hamba-hambanya adalah :

“Hamba itu bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, maka hendaknya mereka takut terhadap murkanya dan adzabnya dengan meninggalkan larangan dan menunaikan kewajiban”.

 

Dan wasiat ini adalah wasiat Allah terhadap orang-orang terdahulu dan yang terakhir, dan wasiat setiap Rasul terhadap kaumnya adalah mereka berkata “Sembahlah Allah dan Bertaqwalah Kepadanya”

 

Allah menyebutkan cirri-ciri (sifat) orang yang bertaqwa pada firman Allah ta’ala :

 

لَيْسَالْبِرَّأَنْتُوَلُّواوُجُوهَكُمْقِبَلَالْمَشْرِقِوَالْمَغْرِبِوَلَكِنَّالْبِرَّمَنْآمَنَبِاللَّهِوَالْيَوْمِالآخِرِوَالْمَلائِكَةِوَالْكِتَابِوَالنَّبِيِّينَوَآتَىالْمَالَعَلَىحُبِّهِذَوِيالْقُرْبَىوَالْيَتَامَىوَالْمَسَاكِينَوَابْنَالسَّبِيلِوَالسَّائِلِينَوَفِيالرِّقَابِوَأَقَامَالصَّلاةَوَآتَىالزَّكَاةَوَالْمُوفُونَبِعَهْدِهِمْإِذَاعَاهَدُواوَالصَّابِرِينَفِيالْبَأْسَاءِوَالضَّرَّاءِوَحِينَالْبَأْسِأُولَئِكَالَّذِينَصَدَقُواوَأُولَئِكَهُمُالْمُتَّقُونَ

 
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”. [QS. Al-Baqarah : 177]
 
Dan pada firman Allah ta’ala :
 
وَسَارِعُواإِلَىمَغْفِرَةٍمِنْرَبِّكُمْوَجَنَّةٍعَرْضُهَاالسَّمَاوَاتُوَالْأَرْضُأُعِدَّتْلِلْمُتَّقِينَ
 
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. [QS. Ali Imran : 133]
 
Kemudian menyebutkan cirri-ciri orang bertaqwa, Allah berfirman :
 
وَالْكَاظِمِينَالْغَيْظَوَالْعَافِينَعَنِالنَّاسِوَاللَّهُيُحِبُّالْمُحْسِنِينَ
 
“(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”. [QS. Ali Imran : 134]
 
Maka Allah mensifati orang-orang bertaqwa engan keimanan beserta pondasi-pondasinya dan ikatan-ikatannya dan amalan-amalannya yang Nampak dan yang tersembunyi dan dengan menunaikan ibadah-ibadah badaniyah dan ibadah-ibadah harta dan bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan dan dengan memaafkan manusia dan menanggung gangguan mereka dan berbuat baik kepada mereka.
 
Dengan bersegeranya mereka (orang-orang bertaqwa) apabila mereka melakukan kekejian atau mendzalimi diri-diri mereka dengan istighfar dan taubat.
 
Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan dan mewasiatkan untuk terus menerus dalam ketaqwaan dimanapun hamba itu berada, pada setiap waktu dan pada setiap tempat, dan pada setiap keadaan.
 
Karena dia (hamba) sangat membutuhkan ketaqwaan dengan puncak kebutuhan, dia tidak pernah merasa cukup dengannya pada setiap keadaan.
 
Kemudian tatkala hamba itu pasti melakukan pengurangan terhadap hak-hak taqwa dan kewajiban-kewajibannya, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memrintahkan pada sesuatu yang dapat menolak hal tersebut dan menghapuskannya, yaitu dengan mengikutkan perbuatan baik pada perbuatan jelek.
 
Dan perbuatan baik itu adalah :
“Sebuah penamaan yang mencakup seluruh yang mendekatkan kepada Allah”, dan kebaikan terbesar yang dapat menolak kejelekan adalah Taubat, Nasehat, Istighfar dan kembali kepada Allah dengan mengingatnya dan mencintainya dan takut kepadanya dan berharap kepadanya serta tamak di dalamnya dan keutamaannya pada setiap waktu.
 
Dan masuk pula dalam perkara tersebut adalah menunaikan kaffarah harta dan badan yang telah ditentukan oleh syari’at.
 
Dan diantara kebaikan yang dapat menolak kejelekan adalah memaafkan manusia dan berbuat baik kepada makhluk dari kalangan anak cucu adam dan selain mereka.
 
Melepaskan kesulitan (orang-orang yang kesulitan) dan memudahkan orang-orang yang kesusahan dan menghilangkan bahaya  dan kesulitan dari seluruh alam.
 
Allah berfirman :
 
إِنَّالْحَسَنَاتِيُذْهِبْنَالسَّيِّئَاتِ
 
“Sesungguhnya kebaikan itu menghilangkan kejelekan”. [QS. Hud : 114]
 
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
 
الصلواتالخمس،والجمعةإلىالجمعة،ورمضانإلىرمضانمكفراتلمابينهنمااجتنبتالكبائر
 
“Sholat lima waktu dan Jum’at ke jum’at berikutnya dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa diantaranya jika dosa-dosa besar itu dijauhi”. [Shohih Muslim]
 
Dan betapa banyak di dalam nash-nash (dalil-dalil) yang menjelaskan tentang deretan ampunan atas kebanyakan dari ketaatan-ketaatan.
 
Dan diantara yang dengannya Allah menghapuskan dosa-dosa adalah (dengan adanya) Musibah-Musibah.
 
Maka sungguh tidak satu pun musibah yang menimpa seorang mukmin, apakah bentuknya berupa keresahan atau kesedihan, sampai duri yang menusuknya, kecuali pasti Allah akan menghapuskan dosa-dosanya (dengan musibah tersebut), apakah dia berupa luputnya sesuatu yang di cintai, atau berupa didapatkannya sesuatu yang dibenci dengan tubuh, atau dengan hati atau dengan harta, di luar atau di dalam, akan tetapi musibah itu bukanlah perbuatan hamba, maka dari itu Allah memerintahkan hamba dengan apa yang merupakan perbuatannya, yaitu mengikutkan kejelekan itu dengan kebaikan (perbuatan baik).
 
Kemudian setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan hak Allah -yaitu wasiat dengan ketaqwaan yang mencakup Aqidah-Aqidah agama dan amalan-amalannya secara bathin dan dzohir- maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”.
 
Akhlak baik yang pertama adalah :
Engkau menahan gangguan terhadap mereka dari seluruh sisi dan engkau memaafkan kejelekan dan gangguan  mereka terhadapmu, kemudian engkau berinteraksi dengan mereka dengan kebaikan ucapan dan kebaikan perbuatan.
 
Dan terkhusus yang merupakan akhlak yang baik adalah :
Luasnya sifat pemurah terhadap manusia, dan bersabara atas (gangguan) mereka, dan tidak berkeluh kesah dari (gangguan) mereka, dan menampakkan wajah yang berseri-seri, ucapan yang lembut, dan ucapan yang indah yang menyenangkan teman duduk, dan memasukkan kegembiraan atasnya.
 
Yang menghilangkan kesepian dan kesulitannya serta kemarahannya, dan terkadang senda gurau itu baik jika padanya ada mashlahat, namun tidak pantas memperbanyak senda gurau, ,dan senda gurau dalam percakapan hanyalah bagaikan garam di dalam makanan, jika dia tidak ada atau melebihi batasan maka dia tercela.
 
 Dan diantara akhlak yang baik adalah :
Engkau berinteraksi dengan setiap orang dengan apa yang pantas dengannya, dan yang sesuai dengan keadaannya dari yang kecil dan yang besar, yang berakal, yang dungu, yang berilmu, dan yang jahil.
 
Maka siapa yang bertaqwa kepada Allah dan membuktikan ketaqwaannya, dan mempergauli manusia dengan berbagai perbedaan tingkatannya dengan akhlak yang baik, maka sungguh dia telah mengumpulkan seluruh kebaikan, karena dia telah menunaikan hak Allah dan hak-hak hamba, dan karena dia adalah orang yang telah melakukan kebaikan dalam beribadah kepada Allah, yang berbuat baik kepada hamba-hamba Allah.
 
——————————————————————————————————————
¹ Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalamShohih Sunan Tirmidzy dan Silsilah Hadits Shohihah no. 1373
 
Dinukil dari Kitab :

  Hal : 40بهجةقلوبالأبراروقرةعيونالأخيارشرحجوامعالأخبار

 
Sumber : http://www.sahab.net/home/?p=811
 
Diterjemahkan oleh : Ust. Salman Mahmud Hafizhahullah
Share

Leave a Reply

© February 9, 2014 Ahlussunnah Mamuju · Subscribe:PostsComments · Portal Wordpress Theme designed by Theme Junkie