Kindle Fire Coupon Kindle Fire Coupon 2012 Kindle DX Coupon 2012 Kindle Fire 2 Coupon Amazon Coupon Codes 2012 Kindle DX Coupon PlayStation Vita Coupon kindle touch coupon amazon coupon code kindle touch discount coupon kindle touch coupon 2012 logitech g27 coupon 2012 amazon discount codes
Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Manhaj » Bagaimana Mengikuti Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-

Untitled

*بِسْــــمِ اللّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيْم *

Saudaraku, semoga Allah memberi petunjuk kepadamu untuk berada di atas jalan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Telah kita ketahui bersama, bagaimana syarat pertama dari diterimanya ibadah, yaitu dengan keikhlasan sebagaimana yang telah di uraikan.

Sebagai kelanjutan dari pembahasan tersebut bahwa , syarat yang kedua diterimanya amalan adalah memurnikan pengikutan kepada Rasulullah – shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-.

Ini adalah merupakan keharusan syahadat yang kedua yaitu :

“Persaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah Ta’ala kepada para hamba untuk mengajari ummat cara penyembahan kepada Allah ta’ala”, dan ini juga merupakan salah satu rukun dari syahadat yang kedua ini, yaitu tidak menyembah Allah kecuali dengan sesuatu yang beliau -Shallallahu alaihi wasallam- syari’atkan / tuntunkan – { Insya Allah makna dua kalimat syahadat akan ter-urai pada pembahasan berikutnya, semoga Allah mudahkan bagi kami dan kalian }.

Karena itu, Allah tidaklah boleh disembah dengan apa-apa yang tidak pernah di ajarkan oleh Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, tidak pula dengan ke inginan hawa nafsu, adat istiadat/kebiasaan, perasaan, atau anggapan- anggapan yang ia pandang baik.

Karena sesungguhnya asal bagi suatu ibadah itu adalah syari’at. Nanti dikatakan ibadah kalau disyari’atkan.

~ Allah Ta’ala menegaskan :
“Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku (muhammad) niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian”, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Ali Imran : 31)

~ Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata dalam Tafsirnya (1/359) :
“Ayat yang mulia ini adalah hakim atas semua orang yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi dia tidak di atas jalan Nabi Muhammad.
Karena sesungguhnya dia (orang yang mengaku tersebut) dusta dalam
pengakuannya tersebut, sampai dia mengikuti syari’at dan agama Nabi Muhammad dalam seluruh ucapan dan perbuatannya”.

Karenanya barangsiapa yang mengerjakan suatu ibadah yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-, maka amalan tersebut tertolak dan sia-sia di sisi Allah.

Datang dalam hadits ‘Aisyah – radhiallahu anha -, Rasulullah -Shallallahu alaihi wasallam- bersabda:
“Siapa saja yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini (agama islam ) apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak”.
(HR. Al-Bukhari no. 2550 dan Muslim no.1717).

Juga dalam hadits ‘Aisyah -radhiallahu anha- dalam riwayat Muslim no.3249 . Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
” Siapa saja yg beramal dengan suatu amalan, yang tidak ada perintah kami atasnya, maka amalan tersebut tertolak”.

Maka dari dua hadits ini merupakan kaidah bahwa :

- Siapa yang membuat suatu ibadah yang tidak ada contohnya dari Nabi maka ibadah tersebut tertolak.

- Siapa yang beramal dengan amalan yang tidak ada contohnya dari Nabi juga tertolak, walaupun bukan dia yang membuatnya.

Karena itu sangat penting kita mempelajari dan meng-ilmui dengan benar setiap amalan yang akan kita lakukan.

Maka prinsipnya berilmu dahulu sebelum beramal, cari tahu apakah amalan yang akan kita lakukan benar ada tuntunan dari Nabi atau tidak, dan apakah bersumber dari hadits-hadits yang shahih atau tidak, maka berhati – hati dan teliti merupakan jalan agar amalan kita di terima, jangan sampai kita beramal tapi justru terjatuh pada kemurkaan Allah, na’udzubillah min dzaalik.

Perlu diketahui bahwa mutaba’ah (ittiba’/ mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak akan tercapai kecuali apabila amal yang dikerjakannya sesuai dengan syariat dalam enam perkara :

- Pertama : Sebab-nya

Jika seseorang melakukan suatu ibadah kepada Allah dengan sebab yang tidak disyariatkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah (perkara yang tidak pernah Nabi lakukan) dan tidak akan diterima ( ditolak ).

Contoh :
ada orang yang melakukan shalat tahajjud pada malam dua puluh tujuh bulan rajab, dengan dalih bahwa malam itu adalah malam mi’raj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dinaikkan ke atas langit). Shalat tahajjud adalah ibadah, tetapi karena dikaitkan dengan sebab tersebut maka menjadi bid’ah. Karena ibadah tadi di dasarkan atas sebab yang tidak ditetapkan oleh syariat.

Syariat ini -( yaitu : ibadah harus sesuai dengan sebab yang syar’i )– adalah penting, karena dengan demikian dapat diketahui beberapa macam amal yang dianggap sunnah, namun sebenarnya adalah bid’ah.

- Kedua : Jenis-nya

Yaitu, ibadah itu harus sesuai dengan jenis yang telah disyariatkan. Jika tidak, maka ibadah itu tidak akan diterima.

Contoh :
Seseorang yang menyembelih kuda untuk qurban. Maka kurbannya tidak sah, karena hewan yang boleh dijadikan kurban hanyalah unta, sapi dan kambing. Dan ia menyalahi ketentuan syariat dalam jenisnya.

- Ketiga : kadar (bilangan / jumlah)

Kalau ada seseorang yang menambah bilangan raka’at pada shalat tertentu, yang menurutnya hal itu diperintahkan, maka shalat tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima, karena tidak sesuai dengan ketentuan syariat dalam jumlah bilangan rakaatnya. Jadi, apabila ada orang yang
shalat dzuhur lima rakaat misalnya, maka shalatnya tidak sah.

- Keempat : kaifiyah (tata cara)

Seandainya ada orang yang berwudhu dengan cara membasuh tangan, lalu muka, maka tidak sah wudhunya, karena tidak sesuai dengan cara yang telah ditentukan oleh syari’at

- Kelima : waktu (pelaksanaan)

Apabila ada orang yang menyembelih hewan qurban pada hari pertama bulan Dzul Hijjah, maka kurbannya tidak sah, karena waktu melaksanakannya tidak menurut ajaran Islam. Saya pernah mendengar bahwa ada orang yang bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah pada bulan Ramadhan dengan menyembelih kambing. Amal ini adalah bid’ah, karena tidak ada sembelihan yang ditujukan untuk bertaqarrub kepada Allah kecuali untuk kurban, hadyu (sembelihan) haji dan aqiqah.

Adapun menyembelih (binatang) pada bulan Ramadhan dengan keyakinan mendapatkan pahala atas sembelihannya, sebagaimana dalam Idul Adha, maka termasuk bid’ah.

Tapi kalau menyembelih hanya untuk memakan dagingnya maka boleh- boleh saja.

- Keenam : tempat

Andaikata ada orang yang beri’tikaf di tempat selain masjid, maka tidak sah i’tikafnya. Sebab tempat I’tikaf itu hanyalah di masjid. Begitu pula, andaikata ada seorang wanita hendak beri’tikaf di dalam mushalla rumahnya, maka tidak sah i’tikafnya. Karena tempat melakukannya tidak sesuai dengan ketentuan syariat.

Contoh lain :
Seseorang yang melakukan thawaf di luar Masjidil Haram dengan alasan karena di dalam Masjid sudah penuh, maka thawafnya
tidak sah. Karena tempat melakukan thawaf adalah baitullah, sebagaimana firman Allah kepada Ibrahim al-Khalil :
“Dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang orang yang thawaf.” ( QS. Al-Haj: 26 ).

Kesimpulan dari penjelasan di atas, bahwa ibadah seseorang tidak termasuk amal shaleh, kecuali apabila memenuhi dua syarat, yaitu :

Pertama : ikhlas.
Kedua : Mutaba’ah (mengikuti tuntunan Rasul).

Dan mutaba’ah tidak akan tercapai, kecuali dengan enam perkara yang telah diuraikan di atas.

(Oleh : Asy-Syaikh al-‘Allamah al-Faqih Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya : Al-Ibda’ Fi Kamal asy-Syar’ Wa Khatr al-Ibtida’ hal 21-23).

Penulis : Ust. Musaddad hafizhahullah

Share

Leave a Reply

© September 9, 2014 Ahlussunnah Mamuju · Subscribe:PostsComments · Portal Wordpress Theme designed by Theme Junkie